Senin, 17 November 2008

Sejarah Singkat Gereja Katolik TNI AU Santo Mikael Pangkalan

Gereja St. Mikael Pangkalan (GSMP) yang merupakan bagian dari gereja
Indonesia harus berani memandang dirinya sebagai salah satu pihak yang
turut serta mengambil bagian dalam membangun masyarakat Indonesia. Hal
ini memang berat karena besarnya tantangan hidup menggereja di tengah
suasana kehidupan berbangsa yang penuh dengan berbagai persoalan
mendasar seperti HAM, pengangguran, kerusakan lingkungan, fragmentasi
masyarakat berbasis SARA, serta derasnya pengaruh budaya global yang
serba instant dan dangkal. Namun demikian, sebagai gereja GSMP mau
tidak mau harus membawa kabar baik, cinta dan harapan sekecil apapun di
tengah tantangan sebesar apapun.

Keberanian seluruh umat memandang GSMP seperti ini akan sangat
menentukan arah pertumbuhan gereja. Lagipula, GSMP yang hadir secara
fisik, berasal dan berlokasi di lingkungan militer angkatan udara berpengaruh
baik secara positif maupun negatif dalam kehidupan menggereja umat.
Dalam situasi seperti ini, cara umat memandang dirinya sebagai bagian dari
masyarakat Indonesia sangat sesuai dengan peran strategis angkatan udara
di mana gereja ini berada.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini status gereja masih berupa
wilayah akan tetapi memiliki infrastruktur dan jumlah umat yang memadai
sehingga menjadikan gereja pangkalan mempunyai potensi yang besar untuk
tumbuh apabila dikelola secara sistematis dan berkelanjutan. Besarnya
sumbang sih gereja terhadap pengembangan hidup berbangsa tidak perlu
mengandalkan jumlah yang bisa dimanifestasikan dalam kekuatan politik
tertentu tetapi justru akan lebih efektif lewat serangkaian pilihan sikap dan
teladan. Untuk itu, kedudukan dan situasi GSMP tidak akan memperkecil
potensi sumbang sihnya kepada bangsa dan negara.

Tentu saja sebagai bagian dari gereja di lingkungan Keuskupan Agung
Semarang maka gereja pangkalan mewarisi visi dan misi KAS yang
memfokuskan dirinya pada pembangunan persudaraan sejati dengan semua
pihak yang berkehendak baik. Untuk itu, sebagai langkah konkritnya, GSMP
sesuai dengan kapasitasnya akan membuat program kerja yang bermuara
pada pemberdayaan umat sehingga umat mampu memainkan peranannya
sebagai agen atau aktor terbangunnya persaudaraan sejati sesuai dengan
kapasitas, lingkungan maupun concern/perhatiannya masing-masing.

Dengan cara pandang ini, kehidupan menggereja di GSMP tidak akan hanya
berpusat di seputar liturgi tetapi malah sebaliknya akan mengusahakan
kehidupan liturgis yang kontekstual dan komunikatif. Hal ini juga akan
membawa konsekuensi sistem penggalangan kegiatan umat yang tidak
semata-mata berbasis teritorial tetapi akan dikembangkan kegiatan umat
berbasis minat dalam bentuk kelompok umat basis.

3 komentar:

  1. hari ini (Rabu 26/11) saya menghadiri pertemuan di pastoran gereja St.Mikael Lanud. Adisucipto. dari penjelasan Rm.Yos Bintoro, gereja yang terletak di kawasan Pangkalan TNI AU ini sungguh unik, selain lokasinya, di gereja ini tenyata sangat peduli dengan lingkungan, terbukti dengan dicanangkan gerakan hidup sehat dengan memilah sampah non organik dan organik untuk dijadikan kompos. Ini tak lepas karena peran aktif Rm. Yos Bintoro yang seorang rohaniwan sekaligus prajurit berpangkat kapten yang sudah sangat terbiasa dengan disiplin militernya. Provisiat romo... kiriman: Antonius Bambang Marsatriantoro (staff redaksi skh. Kedaulatan Rakyat)

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas tanggapan Bp.Antonius
    untuk kedepannya hal yang sama tetap kami perhatikan dan pertahankan dalam tindakan peduli terhadap lingkungan.

    BalasHapus
  3. Judulnya sejarah singkat, tetapi belum ada kapan tanggal berdirinya, Pastor Paroki yang pernah berkarya, dan wilayah yang dibawahi.

    BalasHapus